Selamat Datang di Web kami.
Kesehatan mental menjadi issue yang tidak bisa diabaikan begitu saja di tengah-tengah perkembangan jaman yang terus berkembang dan sulit untuk dibendung kekuatannya. Sedangkan gangguan kesehatan mental bukan sekadar istilah medis yang baru kita dengar belakangan ini. Ia adalah sebuah cerminan sebenarnya tentang keadaan dunia yang sudah retak akibat dosa. Kita sedang hidup di era yang disebut oleh sebagian peneliti sebagai “age of anxiety”—zaman di mana gangguan emosional sudah menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa sehingga lebih banyak dibutuhkan lagi tenaga kesehatan mental seperti psikolog, konselor dan caregiver dalam bidang ini di berbagai daerah.
Mungkin ada banyak definisi dari para ahli tentang apa yang dimaksud dengan Kesehatan mental. Tetapi secara keseluruhan berdasarkan World Health Organization (WHO) “Kesehatan mental adalah suatu keadaan sejahtera di mana individu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.”. Jadi, seseorang dikatakan memiliki Kesehatan mental yang baik apabila dirinya menyadari akan kemampuannya untuk dapat menyelesaikan dan mengatasi konflik atau tekanan yang menyangkut diri dan sekitarnya dengan tepat. Sehingga dengan sadar dirinya mampu menjadi pribadi yang produktif dan dapat membangun relasi positif terhadap orang-orang disekitarnya.
Secara global, menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, 1 dari 8 orang di dunia sekarang ini hidup dengan permasalahan kesehatan mental. Itu artinya pada saat pernyataan tersebut dikeluarkan ada sekitar 970 juta jiwa hidup dalam keadaan depresi dan gangguan cemas sebagai dua indikasi yang paling umum dialami oleh banyak orang di dunia. Ini menegaskan bahwa bukan hanya sedikit orang yang mengalami gangguan jiwa, melainkan hampir seluruh dunia telah terpapar dampaknya.
Pada tahun 2020 saat memasuki masa pandemi COVID-19 jumlah ini menjadi meningkat lebih tajam, terutama di kalangan usia muda. Depresi dan kecemasan di masa pandemi meningkat karena peristiwa tersebut membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, bisnis usaha yang telah susah payah dirintis menjadi kolaps, dan kehilangan orang yang dikenal dan dicintai dalam hidup mereka. Walaupun masa pandemi sudah berakhir, perubahan dan perkembangan budaya akibat pandemi belum berhenti dan menciptakan budaya baru dimana orang yang tidak dapat menyesuaikan perubahan menjadi sulit bersaing dan menjadi jatuh terpuruk. Sampai saat ini karena keterbatasan sebagian besar orang yang mengalami permasalahan dengan Kesehatan mental, mereka tidak memiliki akses yang memadai agar mendapatkan pelayanan Kesehatan mental yang efektif untuk diri sendiri.
Melihat kebutuhan akan adanya perawatan kejiwaan yang memadai, maka kami Yayasan Tanah Perjanjian Efata “RUMAH PEMULIHAN EFATA” hadir memberikan solusi bukan hanya bagi orang yang sedang bergumul dengan kesehatan mental saja tetapi juga para penderita gangguan kejiwaan dan juga untuk keluarga penderita. RUMAH PEMULIHAN EFATA adalah sebuah lembaga yang menyediakan suatu tempat perawatan pasien dengan gangguan kejiwaan, dimana pasien dapat memperoleh perawatan secara holistik mengenai gangguan kejiwaannya. Dengan demikian pasien tetap mendapatkan perawatan lengkap baik secara medis, rohani, jasmani, dan psikis dalam satu tempat yang memadai dan nilai lebih lainnya adalah pasien dibekali dengan berbagai keterampilan dan kegiatan yang bermanfaat.
Mengenal YTPE “Rumah Pemulihan Efata”
RUMAH PEMULIHAN EFATA adalah Pusat Rehabilitasi Kejiwaan yang berlokasi di bawah kaki gunung Merbabu Jawa Tengah sehingga masih memiliki hawa sejuk pegunungan dan dekat dengan berbagai macam wahana wisata. Rumah Pemulihan Efata sendiri saat ini berdiri di atas lahan seluas 2 hektar yang dilengkapi dengan sarana olah raga, perkebunan, peternakan, pertokoan dan perikanan sehingga akan sangat membantu di dalam proses pemulihan Klien secara rohani dan jasmani.
RUMAH PEMULIHAN EFATA bergerak dan berkiprah dalam dunia kesehatan jiwa dengan memberi pelayanan bagi pasien gangguan kejiwaan sejak tahun 2005. Oleh sebab itu sudah ada banyak klien yang telah dirawat dan mendapatkan manfaat dari pelayanan ini demikian juga keluarga pasien merasa terbantu. Rumah Pemulihan Efata di layani secara langsung oleh para Rohaniawan, Psikolog, Dokter Psikiater, perawat dan banyak caregiver yang terpanggil untuk melayani orang-orang yang memiliki permasalahan kejiwaan.
Bentuk Pelayanan RUMAH PEMULIHAN EFATA antara lain:
- – Rehabilitasi / Pemulihan Jiwa dari Stress dan Depresi
- – Schizophrenia
- – Pastoral Konseling dan Konseling Kejiwaan
- – Pemeriksaan Psikologi : Diagnosis Kejiwaan, Test Kepribadian, IQ, Bakat, Minat, dll (Kelompok & Perorangan di bawah Lembaga Psikologi Terapan “Efata”)
Memasuki dua dekade pelayanan di tahun 2025 ini, maka oleh karena kasih karunia Allah kami dimampukan untuk mengembangkan pelayanan yang sudah ada agar semakin luas Tuhan pakai untuk menjadi sarana kasih menjangkau jiwa yang terluka. Saat ini kami telah membuka unit layanan baru yaitu Rumah Perteduhan Efata. Sesuai dengan namanya, tempat ini akan menjadi sebuah tempat berteduh sesaat bagi jiwa yang sedang letih ketika harus menghadapi ‘hujan badai’ kehidupan dalam pekerjaan, bisnis, rumah tangga dan gejolak batin. Rumah Perteduhan Efata sendiri akan di lengkapi dengan pelayanan dan fasilitas berupa:
- – Senior Living
- – 8 kamar “The Sanctuary” guest house untuk retreat pribadi atau kelompok kecil
- – The Sanctuary, Coffee & Counseling
- – Pelayanan Pastoral Konseling
- – Klinik Psikologi
- – Klinik dokter umum
- – Stroke Center
- – Klinik perawatan luka
Akhirnya kami sangat menyadari bahwa hanya ALLAH Sang Sumber kehidupan sajalah yang dapat memulihkan segala keadaan yang rusak dari setiap apa yang telah diciptakan-Nya. Anugerah-Nya yang tak terbatas akan terus menerangi setiap jiwa yang dikasihi-Nya hingga mereka dapat mengalami dan merasakan pemulihan hanya di dalam Dia. Tuhan Memberkati.
